Mudik Lebaran Menggerakkan Perekonomian dan Mengurangi Kesenjangan Sosial

Kita bangsa Indonesia harus bangga karena berkah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, mampu memutar ekonomi umat bergerak cepat.

Bayangkan saja, ketika umat Islam mau berbuka puasa, berapa milyar nilai rupiah makanan dan minuman yang dibuat rumah tangga, belum lagi pesanan go food dan reservasi rumah makan dan restoran yang dihabiskan.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri tiba, jutaan umat islam nusantara melaksanakan tradisi mudik lebaran. Pergerakan penduduk ke berbagai wilayah inter dan antar pulau, menimbulkan berkah bagi sektor transportasi dan akomodasi baik di darat, laut, maupun udara. Lebih dari 100 juta umat islam melaksanakan ritual mudik lebaran demi tersambungnya tali silaturahmi berjumpa dengan orang tua, dan saudara di kampung.

Pada proses mudik itu, terjadi peredaran uang dari kota menuju desa yang ada di pelosok negeri. Tak kurang dari Rp200 Triliun uang beredar ke daerah saat mudik lebaran 1439 H. Sirkulasi uang beredar dari kota ke desa menggambarkan keberlakuan dari teori trickle down effect atau tetesan ke bawah. Meskipun teori tersebut berlaku tidak sebagaimana mestinya seperti yang diharapkan oleh ekonom Albert Otto Hirschman. Menurut Hirschman, pembangunan ekonomi kapitalisme akan memberikan efek tetesan ke bawah. Justru kapitalisme gagal menciptakan trickle down effect. Kapitalisme telah menyebabkan surplus ekonomi masyarakat bawah tersedot ke atas melalui mekanisme bunga dan penetapan harga, dimana mengakibatkan uang mengalir lebih deras ke pemilik modal. Akibatnya, terjadi kemiskinan dan memperlebar kesenjangan kota dan desa maupun antar golongan masyarakat berpendapatan tinggi dan rendah.

Melalui ekonomi syariah, Islam memberikan solusi dan mekanisme pemerataan yang otomatis. Kewajiban berzakat bagi kelompok mampu, dan anjuran untuk bersedekah, infaq dan wakaf akan semakin mempersempit kesenjangan ekonomi antar kelompok masyarakat. Begitulah pemeretaan yang tercipta dari momen Idul Fitri.

Selain itu, perayaan Idul Fitri ikut menyempurnakan proses tetesan ke bawah semakin sempurna dan efektif dalam menghilangkan ketimpangan antar kelompok masyarakat kaya dan miskin yang terjadi selama ini. Berkah tetesan ke bawah ini terjadi karena para pemudik membayar zakatnya di desa (baik zakat mal maupun zakat fitrah), dan membelanjakan uangnya juga di desa. Bahkan sedekah yang diberikan kepada sanak saudara dapat menghilangkan kesenjangan yang ada.

Keberkahan Sosial Mudik Lebaran

Mudik lebaran telah mendorong terjalinnya persatuan dan harmonisasi berkehidupan di kalangan masyarakat. Para pemudik dari kota dinanti-nanti oleh keluarga di desa atau di kota kecil. Mereka biasanya membawa oleh-oleh atau sesuatu yang dapat dinikmati bersama di desa.

Saat pemudik kembali ke kota, tidak jarang mengajak famili untuk berjuang mencari pekerjaan dan nafkah di kota. Hal ini tentu ada yang berhasil dan ada yang gagal. Sebagian besar mereka yang migrasi ke kota mampu mengikuti jejak pendahulunya. Mereka belajar, saling memberi peluang, berbagi informasi, dan pengalaman. Akhirnya mereka banyak yang sukses, dan pada gilirannya juga akan melakukan tradisi mudik lebaran.

Oleh karena itu, tradisi mudik lebaran akan terus berlangsung di negeri ini. Inilah keberkahan sosial dari mudik lebaran, dimana tali silaturrahmi antar generasi terus tersambung. Begitulah makna silaturahmi memperpanjang umur, oleh karena mudik menciptakan ikatan-ikatan sosial semakin kuat, dan yang jelas semakin mententramkan jiwa setelah semua dosa dan salah dimaafkan. Mereka kembali fitri, dan hatinya kembali bersih.

Selamat kepada para pemudik, mari kita do’akan mereka agar berhasil menunaikan niat dan hajatnya untuk bersilaturahmi dengan keluarga dengan selamat sampai kembali ke rumah masing-masing. Aamiin YRA.

Penulis : Dr. Imam Asngari, M.Si.

Dosen FE Unsri dan anggota KS 212

Penggiat mudik lebaran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here