Koperasi saat ini sudah memasuki ulang tahun Ke-71, sebuah usia yang tidak muda. Lembaga bisnis seusia itu seharusnya sudah mapan, mandiri dan eksis di tengah persaingan global. Artinya koperasi seharusnya mampu berperan mensejahterakan anggota dan rakyat dengan menjadikan dirinya sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Namun harapan-harapan itu jauh dari kenyataan. Apa sebab, karena koperasi tidak mengakar, tidak dikelola secara profesional, dan belum menjadi gerakan ekonomi yang militan. Kekecewaan pun dialamatkan ke koperasi. Sedangkan upaya pemberdayaan yang dilakukan pemerintah juga belum berhasil mengubah pola pikir anggota untuk membangun koperasi yang ideal sesuai dengan amanat UUD 1945.

Akhir tahun 2016 saat aksi bela Islam II yang dikenal dengan aksi 212, timbul kesadaran umat untuk bersatu dalam ekonomi. Gagasan ini kemudian ditindaklanjuti oleh para pejuang ekonomi syariah yang didukung oleh MUI membentuk koperasi syariah. Koperasi ini mengimplementasikan konsep kekeluargaan dengan berjamaah, profesionalisme dengan amanah, dan kebanggaan dengan izzah.

Berjamaah dalam melaksanakan ibadah tidak terbatas pada ibadah mahdoh (ibadah utama) tetapi juga pada ibadah muamalah (ekonomi) maupun dalam syiasah (politik)

Islam sebagai rahmatal lil’alamiin tentu memiliki konsep yang komprehensif dan integral dalam menjalankan semua ibadah. Tidaklah paripurna jika ummat dalam menjalankan ibadah hanya bersifat parsial (sebagian) saja. Berkah yang simultan dalam menjalankan ibadah akan nampak ketika umat menjalankan Islam secara kaffah (secara keseluruhan).

Pelajaran penting dari konsep muamalah berjamaah yang diusung KS 212 merupakan pilar kedua setelah konsep berjamaah dalam ibadah mahdoh.

Tidaklah pernah kuat suatu umat yang tercerai berai dalam menjalankan tiga kelompok ibadah tadi.

Mari kita jalankan konsep ibadah muamalah secara berjamaah karena ibarat sapu lidi meskipun kecil-kecil namun bila bersatu maka tak satu pun orang yang mampu mematahkan sapu lidi dalam satu kesatuan.

Menteladani perjuangan Rasulullah yang dimulai dari kelompok kecil namun bersatu padu akhirnya mampu mengalahkan kelompok kaum kufar yang banyak jumlahnya maupun besar ekonominya. Pada akhirnya, hanya dengan pertolongan Allah hidayah Islam sampai ke Negeri ini.

Kebangkitan ekonomi sudah di depan mata, jangan sampai kita ketinggakan momen ini. Berikut alasan mengapa kita perlu berjamaah dalam ekonomi.

1. Apakah kebangkitan ekonomi penting bagi kita ?

Sejarah telah mencatat bahwa kejayaan suatu negeri ditunjukkan oleh kemajuan dalam ekonomi. Penguasaan ekonomi menjadi cikal-bakal penguasaan di sektor lain termasuk kekuasaan politik. Kebijakan suatu negeri tentu akan sangat dipengaruhi oleh pemegang kekuasaan politik dan dalam ekonomi. Maka jika kita ingin berkuasa maka perlu untuk mengawalinya dari penguasaan ekonomi. Bukankah demokrasi membutuhkan biaya tinggi? Hampir tidak mungkin di era demokrasi seperti saat ini bisa berkuasa tanpa dukungan dana yang besar. Orang yang alim, cerdik pandai akan kalah dengan orang zalim yang bermodal besar. Karena logika kekuasaan saat ini masih seirama dengan kepemilikan modal. Jadi kuncinya masih kembali pada kekuatan ekonomi.

Penguasaan ekonomi dimulai dari usaha bisnis, perdagangan, dan pasar. Kita umat terbesar memiliki pasar yang besar sebagai konsumen, maka peluang bisnis terbesar adalah penyediaan kebutuhan rumah tangga baik pangan maupun non pangan. Jikalau saat ini umat belum mampu berproduksi sendiri, minimal mampu mengadakan (berdagang) dalam kebutuhan sendiri. Maka langkah awal yang tepat dan rasional adakah mendirikan retail atau toko sendiri seperti 212 Mart.

Ayo gerakkan semua anggota keluarga, kerabat dan tetangga muslim berbelanja ke 212 Mart.

Allah SWT akan memberikan keberkahan kepada kita yang berjamaah dalam segala bentuk ibadah termasuk berbelanja di 212 Mart toko milik muslim. Dengan demikian kekayaan umat ini akan berputar di dalam kelompok muslim sendiri dan tidak lari ke luar.

2. Apakah dengan kekayaan akan membawa kemuliaan ?

Insha Allah harapan kita dan cita cita kita sebagai seorang muslim adalah memuliakan manusia melalui hartanya. Kekayaan yang dicari jauh dari niat untuk riya’ apakagi berpoya dan bermegah- megahan. Harta yang kita cari adalah dijadikan sebagai alat jihad dan pengabdian kepada Allah. Menolong sesama yang kekurangan tentu harus dengan harta dan itu bagian dari jihad. Membantu kebutuhan hidup, makan, pakaian, hunian, hingga pendidikan. Saat ini mereka yang tidak mampu (kaum duafa) sulit untuk memutus daur kemiskinannya. Pemberdayaan kaum duafa adalah tanggung jawab kita yang Insha Allah kita akan kaya.

3. Apakah perlu berjamaah ?

Memulai sesuatu usaha yang besar tentu berat karena membutuhkan segalanya yang juga besar seperti tekad dan keyakinan yang kuat, modal uang yang besar, fokus dan komitmen. Melalui jamaah, kita bisa bersama-sama untuk memberikan sumbangsih potensi yang kita miliki. Berjamaah modal, berjamaah fikiran, berjamaah pengalaman, berjamaah tenaga, berjamaah dalam nasihat, dan lain sebagainya. Jamaah yang kuat akan memperoleh hikmah dan keberkahan.

4. Bagaimana upaya untuk tetap amanah ?

Koperasi dibangun melalui kekuatan jamaah. Setiap kita adalah pemilik. Setiap kita adalah pengawas, setiap kita adalah sama-sama anggota, Pengawasan secara berjamaah tentu akan lebih mudah dan efektif.

Kuncinya adalah semuanya termasuk pengurus dan anggota harus amanah, disiplin, dan memiliki visi jauh ke depan.

Sebagai modal dasar adalah luruskan niat, Istiqomah. Mari bersatu dan mulai dari kita, mulai saat ini, mulai dari yang kita punya. Semoga KS 212 kedepannya mampu mewujudkan cita-cita UUD 1945, menjadi soko guru perekonomian Indonesia. Dirgahayu Koperasi. Semoga Allah meridai perjuangan kita. Aamiin Ya Robbal’alaamiin.

____

*Penulis anggota KS 212

Dr. Imam Asngari, M.Si. (Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Sriwijaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here