INDRALAYA, KINERJA- Kemarin, sabtu (4/8) Tim Kinerja berkesempatan mewawancarai secara eksklusif Dekan FMIPA Unsri, Prof. Dr. Iskhaq Iskandar. M.Sc di Sekretariat Ikatan Alumni (IKA) Unsri, Jalan Hoki blok C, Palembang. Orang nomor satu di Fakultas MIPA Unsri itu diketahui baru saja menghadiri agenda fakultas di Gedung IKA Unsri saat dikonfirmasi. Dengan setelan batik dan celana hitam, Prof. Iskhaq pun dengan senang hati menerima permintaan jurnalis Kinerja saat hendak diwawancara. Wawancara pun dilaksanakan di ruang rapat lantai 1.

Dekan FMIPA Unsri (Prof. Iskhaq) dan Pemimpin Umum Kinerja (Bagas Pratama)

Prof. Iskhaq memimpin FMIPA Unsri sejak 2017 kemarin, dengan pencapaian dan prestasi yang boleh dikatakan luar biasa. Salah satu yang menarik perhatian Kinerja adalah langkah sang Dekan dalam memimpin fakultasnya berjaya. Prof. Iskhaq ternyata menyelesaikan program Doktornya di Tokyo University, perguruan tinggi terbaik di Asia. Kerja keras dan kemauan untuk selalu belajar akhirnya mengantarkannya menjadi orang nomor satu di FMIPA itu.

Selama kepemimpinannya, Ia mengungkap bahwa FMIPA-lah yang saat ini mempunyai laboraturium yang terakreditasi KAN (Komite Akreditasi Nasional) ISO 17025 selain Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) dalam lingkungan Universitas Sriwijaya. “Satu-satunya Laboraturium di Unsri yang punya akreditasi KAN (komite Akreditasi Nasional) ISO 17025 yakni di FMIPA, sebenarnya ada dua, satunya lagi di PPLH (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup) Unsri,” ujarnya. Ia juga mengaku PPLH yang berhasil mendapat akreditasi KAN pun pernah dipimpinnya sebelum akhirnya naik menjadi Dekan FMIPA. Namun ia mengakui PPLH kurang berjalan aktif. “Nah waktu itu, kita dapat akreditasi ISO 17025 di PPLH itu pada saat saya menjadi kepala. Tetapi sekarang kurang berjalan. Yang tetap berjalan dan eksis itulah yang di MIPA,” ungkapnya.

FMIPA sebagai salah satu fakultas eksakta di Unsri juga selalu terdepan dalam hal publikasi karya ilmiah. Hal itu ia lakukan demi sejalan dan selaras dengan program yang diusung Rektor Unsri, Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE, yakni menjadikan Unsri sebagai Research University. “Jadi kita ingin memperkuat risetnya untuk mendukung programnya pak rektor kan, jadi Research University, publikasinya ditingkatkan,” ujar Profesor kelahiran tahun 1972 ini. “MIPA itu kalau tidak nomor satu, nomor dua peringkatnya publikasi internasional kalau di Unsri ini,” begitu ungkapnya.

Ternyata, FMIPA Unsri, walaupun identik dengan ilmu eksakta yang serba ilmiah, penuh dengan nuansa penelitian dan hal-hal yang berhubungan dengan alat-alat laboraturium itu, boleh dikatakan sebagai fakultas paling sederhana di Unsri. Hal itu ditunjukkan dengan besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang paling kecil reratanya di antara seluruh fakultas di Unsri. “MIPA itu identik dengan fakultas yang sederhana. Bayar UKT paling kecil, rata-rata UKT di MIPA mahasiswanya bayarnya satu juta sampai satu juta setengah, kalau USM Rp 2.250.000,” ujarnya.

Karena pemasukan yang sedikit, Prof. Ishaq pun tak menampik bahwa pengembangan FMIPA diakuinya sulit. “Nah jadi, bukannya apa, pengembangannya sulit. Disamping pendapatannya kecil, dan juga ada semacam handicap (rintangan, -Red) bagi orang-orang di MIPA. Baik mahasiswa, dosen maupun karyawan kita merasa minder, karena mungkin menganggap MIPA adalah fakultas miskin. Nah itu yang harus kita ubah mindset-nya,” ujar Prof. Iskhaq.

Dengan semua keadaan dan tantangan yang sedang dihadapi, Prof. Iskhaq menyebut langkah yang sedang dan selalu ditempuhnya yakni mengubah mindset ‘orang-orang’ MIPA. Ia menganalogikan proses mengubah mindset atau cara pandang seperti mengubah haluan kapal tanker. “Sesungguhnya kalau secara analogi, kalau kita mengubah speedboat, memang cepat beloknya, sewaktu waktu dapat berubah arah, namun ketika bertemu ombak, speedboat akan berhenti. Nah, mengubah mindset sama seperti mengubah kapal tanker, memang pelan berubahnya, sampai nahkoda pun memutar kemudi hingga beberapa kali, tetap saja beloknya perlahan. Namun ketika sudah belok dan bertemu ombak, tanker akan tetap bertahan dari ombang-ambing,” ujar Prof. Ishaq.

Dekan ini pun terbilang sangat mendukung kegiatan kemahasiswaan di FMIPA. Walaupun FMIPA dianggap banyak orang sebagai wadah menempa ilmu eksakta, namun Prof. Iskhaq sangat mendorong mahasiswanya untuk aktif berorganisasi di samping berkuliah. “Saya dulu aktivis juga, dan boleh ditanya kepada mahasiswa baru FMIPA, apa pesan pak Dekan, pasti jawabnya, berkuliah dan berorganisasilah,” ungkap Prof. Iskhaq.

Ia pun juga pernah membuka ruang yang luas kepada mahasiswanya untuk mengadakan diskusi. Beberapa waktu lalu contohnya, ketika ia diundang menjadi salah satu pembicara saat BEM KM FMIPA mengadakan diskusi bertema “20 Tahun Reformasi” bertempat di FMIPA kampus Indralaya. Ia pun mendukung penuh kegiatan itu. Walaupun tak berbicara sebagai analis, namun sikapnya mendukung kegiatan kemahasiswaan seperti itu mendapat apresiasi positif terutama dari kalangan mahasiswa. (bgs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here